Jika warga NU semuanya sadar untuk bersatu kembali ke rumahnya yang telah dibangun dengan susah payah, niscaya rumah tersebut menjadi rumah yang terbesar diantara rumah-rumah yang lain.
Tetapi sangat disayangkan, sampai sekarang ini warga NU masih banyak yang berceceran tinggal di rumah-rumah orang lain. Jika warga NU tidak segera merapatkan barisan kembali kerumahnya, maka sampai kapanpun NU selalu menjadi makmum.
Maka dengan kondisi seperti inilah saya terdorong untuk menyampaikan kepada warga NU khususnya dan umat islam umumnya, sekelumit pemikiran dalam bentuk tulisan sesuai dengan keterbatasan saya untuk menjelaskan kewajiban sebagai warga NU dan warga-warga lainnya harus bagaimana dan harus kemana dalam menyalurkan aspirasi politik mereka.
Tulisan ini pernah saya sebarkan kepada kawan-kawan saya sesudah Pemilu 2004. mereka memberi tanggapan positif tetapi disertai dengan penyesalan dalam bentuk pernyataan: “saya menyayangkan sekali dengan tulisan ini, kenapa terlambat? Padahal kalau saja tulisan ini disebarkan sebelum Pemilu, maka sangat tepat.
Maka semenjak itulah tulisan ini saya beri judul “Belum Terlambat Sebelum Kiamat”. Artinya masih banyak pemilu-pemilu yang akan datang.
